BerandaTan Malaka: Bapak Republik yang Terlupakan
Tokoh

Tan Malaka: Bapak Republik yang Terlupakan

20 Juli 2026ยท9 menit bacaยทRedaksi Sydas Sector

Anak Minang yang Menjelajah Dunia

Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka lahir sekitar 1897 di Nagari Pandan Gadang, Sumatera Barat. Dari surau kecil di ranah Minang, ia menempuh pendidikan guru hingga jauh ke Belanda. Di Eropa yang sedang bergolak seusai Perang Dunia I, ia menyerap gagasan-gagasan besar tentang kemerdekaan, kelas pekerja, dan nasib bangsa-bangsa terjajah.

Sekembalinya ke Hindia Belanda, Tan Malaka memilih jalan yang jarang ditempuh: menjadi guru bagi anak-anak buruh perkebunan sekaligus pengorganisir. Sejak muda, hidupnya telah ditandai satu hal โ€” keberpihakan pada mereka yang tersisih.

Tan Malaka, pemikir yang gagasannya mendahului zamannya.
Tan Malaka, pemikir yang gagasannya mendahului zamannya.

Gagasan yang Mendahului Zaman

Pada 1925 โ€” dua dekade sebelum Proklamasi โ€” Tan Malaka menulis Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia). Di dalamnya ia membayangkan sebuah republik merdeka lengkap dengan bentuk pemerintahannya, ketika sebagian besar tokoh pergerakan masih berdebat soal otonomi.

Karyanya yang paling terkenal, Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika), mengajak bangsanya berpikir rasional dan ilmiah, melepaskan diri dari cara berpikir yang ia sebut sebagai logika mistik.

"Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda." โ€” Tan Malaka

Naik-Turun dalam Pusaran Revolusi

Hidup Tan Malaka adalah kisah pelarian panjang. Ia memakai puluhan nama samaran, berpindah dari satu negeri ke negeri lain untuk menghindari kejaran polisi kolonial. Ketika revolusi kemerdekaan meletus, gagasannya tentang merdeka seratus persen kerap berbenturan dengan jalur diplomasi yang ditempuh para pemimpin republik.

Perbedaan sikap itu membuatnya terpinggirkan. Pada 1949, di tengah kekacauan revolusi, ia ditangkap dan dieksekusi di kaki Gunung Wilis, Kediri โ€” nyaris tanpa catatan resmi.

Warisan yang Kembali Diakui

Selama puluhan tahun namanya nyaris hilang dari buku sekolah. Baru pada 1963 ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, dan makamnya pun lama tak diketahui pasti. Kini generasi baru kembali membaca karyanya โ€” bukan sebagai monumen, melainkan sebagai ajakan untuk berpikir merdeka. Di situlah Tan Malaka tetap hidup: dalam gagasan.

Baca juga

Versi interaktif: buka di aplikasi.