Krisis 1998 tidak datang dalam semalam. Ia adalah akumulasi dari tekanan ekonomi, kerapuhan politik, dan gejolak sosial yang menumpuk selama bertahun-tahun.
Awal dari Keruntuhan
Nilai tukar rupiah yang terjun bebas hanyalah percikan pertama. Di baliknya, ada struktur ekonomi yang bergantung pada utang luar negeri jangka pendek dan sistem perbankan yang rapuh.
Ketika kepercayaan runtuh, uang bergerak lebih cepat daripada kebijakan apa pun yang bisa mengejarnya.
Gelombang Sosial
Harga kebutuhan pokok melonjak. Pengangguran meledak. Ketegangan yang selama ini terpendam menemukan salurannya di jalanan.
Titik Didih
Mei 1998 menjadi puncak. Dalam hitungan hari, peta kekuasaan yang tampak kokoh selama tiga dekade berubah selamanya.
Warisan yang Tersisa
Reformasi membuka ruang kebebasan baru, tetapi juga mewariskan pekerjaan rumah yang belum selesai: bagaimana membangun institusi yang tahan terhadap badai berikutnya.